03 Desember 2008

This is using div class
Here is the beginning of my post.


And here is the rest of it.

Read more!
Here is the beginning of my post.



And here is the rest of it


Read more!

How can I create expandable post summaries?

The Quick Answer
  • Add tags to your posts to mark which parts you want hidden in the summary version.
  • Add CSS declarations to your template to hide those sections on the index and archive pages, but not on post pages.

With this trick, you can choose to display an arbitrary amount of text from the beginning of each post, as a teaser for the whole thing. Then users who want to read the rest of the post can click a link to see the full text. This is handy if you have lots of long articles all on one page. Note that you'll need to have post pages enabled in order to make this feature work.


There are three ingredients that go into this feature: conditional CSS, a "read more" link for each post, and a modification for the posts that use this feature. So let's go through it step by step.

Conditional CSS

We're going to use conditional tags to change how posts display on different pages.
Add the following code to your style sheet, depending on what kind of template you have:
(for classic templates) :

<MainOrArchivePage>
span.fullpost {display:none;}
</MainOrArchivePage>

<ItemPage>
span.fullpost {display:inline;}
</ItemPage>




Read more!

21 November 2008

Nasi Bancakan

Ini kisah lanjutan setelah dari Kawah Putih Ciwidey Bandung. Turun dari sana masih tetap keroncongan, walaupun udah diganjel jagung bakar, ketan bakar, dan secuil ikan bakar J Hehe…kemaruk ya. Udah cita-cita nih tar turun ke Bandung mau cari makan uenak. Atas rekomendasi seorang teman, diajaklah kami ke Nasi Bancakan. Lokasinya di daerah sekitar belakang Gedung Sate, tepatnya di Jl. Trunojoyo 62 Bandung.

Sebelumnya teman sudah cerita bahwa ini adalah tempat makan model masakan tradisional dengan menu Sunda. Katanya menunya tuh ndesani (kata orang Jawa bilang). Wah cocok tuh pikir saya. Sesuai benar dengan selera saya yang tradisional J

Sore sekitar jam 5 baru sampe sana. Hmm...parkiran dah berjejer sampe ke pinggir jalan raya. Biasanya pertanda enak nih. Maksudnya pengunjung banyak, berarti banyak yang suka, dan berarti rasanya pas buat sebagian besar orang, dan berarti Insya Allah enak. Tapi kok tempatnya gak sesuai bayangan. Ini dari luar keliatan kayak restoran. Dengan bangunan yang terlihat masih baru dan bagus, kayaknya kontras dengan menu ndesani-nya tadi. Di depan ada spanduk bertuliskan Nasi Bancakan Mang Barna & Bi O’om dengan dua gambar foto kakek nenek model orang desa.

Masuk ke dalam rame banget. Orang sudah antri di bagian dapur. Jadi konsepnya tuh kayak kalo di BreadTalk kita bisa lihat bagaimana para koki bikin roti. Konsepnya terbuka, kita bisa liat dapurnya, cara masaknya gimana. Kalo di BreadTalk kan peralatannya modern, nah kalo di sini masaknya masih pakai kayu bakar, ada tungku, alat masak dari tembaga, bumbu dapur macam-macam dijejerin di deket tungku, ikan asin terkapar menunggu digoreng atau dibakar, piring dan gelasnya juga dari kaleng (kayak alat makan mbahku dulu J ) trus makannya juga ambil sendiri (tapi ya ada yang ngawasin J ).

Yang pertama ambil nasi, recommended banget tuh nasi liwetnya, uenak tenan. Bebas ambilnya, kalo gak malu ya ambil yang buanyak J Abis tu bisa pilih sayur, lauk, dan sambal. Recommended banget sambel sama ikan asin bakar. Makan itu aja udah nikmat. Sambelnya macam-macam, sambal merah, sambal ijo, sambal bawang, enak semua. Ikan asinnya juga macam-macam, tapi gak hapal namanya J Setelah ambil yang diminati, kita jalan ke kasir buat nunjukin yang kita ambil, nanti mereka akan catat, dan kita dibawain nomor meja. Bayarnya tar kalo udah selesai makan. Makannya boleh pilih di meja atau lesehan. Tapi afdolnya makan ndesani gitu ya lesehan. Untung dapat deh buat lesehannya. Oya, sebelum duduk, jangan lupa ambil minum dulu, kalo mo gratisan ambil sendiri teh tawar hangat, karena sambelnya puedes pol. Jadi hati-hati ma sambelnya, dikit dulu nyobanya.

Masing-masing kami makan satu piring sudah habis. Ternyata kami keranjingan dengan nikmatnya, jadi ambil lagi nasi liwetnya J Dengan berpeluh dan mulut berhuh hah kepedesan, rasanya puas banget makan kali ini. Bener-bener memenuhi kebutuhan perut yang keroncongan dan memenuhi selera lidah. Top deh! Kapan-kapan Insya Allah kembali ke sini.

Keluar ke pintu depan, lho kok ada kakek kakek mirip orang yang ada di spanduk depan? Ternyata itu memang gambar kakek yang ada di spanduk, namanya Mang Barna. Kirain itu hanya gambar doang, ngambil foto orang desa entah dimana. Ternyata asli betulan. Wah canggih juga kakek ni punya tempat makan. Gak lupa kita minta foto bersama J

Buat orang Bandung pastinya udah tau dan usah nyoba tempat makan ni. Tapi buat yang dari
luar Bandung, cobain deh! Cukup recommended J


Read more!

Kawah Putih


Perjalanan
Akhir Agustus 2008 lalu saya berkesempatan mengunjungi Kawah Putih di daerah Ciwidey Bandung. Sebelumnya saya sudah sering mendengar tentang Kawah Putih yang terkenal buat tempat foto prewedding  Soalnya sering lihat foto prewed yang dipromosikan oleh para fotografer prewedding kok tempatnya disana.

Sebetulnya tidak ada rencana khusus akan pergi ke Kawah Putih. Hanya karena pas pergi ke Bandung menengok saudara yang sakit kemudian kok masih ada waktu ya, maka jadilah saya dan suami tancap gas kesana. Kami juga pas bawa mobil. Kadang kadang hal seperti ini terjadi, pergi tanpa rencana dan spontan saja, malah ada keasyikan tersendiri  Lebih exited dan penuh surprise  Tapi bukan berarti kalau pergi pergi harus tanpa rencana lho ya 

Dari Bandung start jam 10, perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Menuju selatan melewati Daeyuhkolot dan Soreang (Ibu Kota Kabupaten Bandung). Bermodal penunjuk arah dan tanya tanya, semakin ke selatan lagi maka sampailah kami ke Ciwidey. Nah Ciwidey ini adalah tempat yang terkenal sebagai penghasil Strawberry. Asyiknya lagi bisa petik sendiri di kebun kebun yang menghampar di pinggir jalan raya. Ternyata Kawah Putih masih sekitar 5 km lagi dari Ciwidey dengan jalan yang berkelok kelok, naik turun dan agak sempit. Jadi agak berhati hati saja di jalur ini. Ditambah pula ada banyak truk, gak tau angkut apa. Tapi sepertinya jalur ini sering ada iring-iringan truk, jadi sabar saja. Tapi cukup menggelitik juga karena gambar di bak belakang truknya terisi dengan gambar yang menggoda dan norak. You know lah seperti apa biasanya gambar di bak belakang truk  Ini salah satunya yang paling sopan  Foto yang lain sih ada, tapi tar kena sensor 


Kawah Putih

Akhirnya sampai juga di gerbang depan Kawah Putih. Ditandai dengan sebentuk tembok putih besar di kiri jalan dengan tulisan besar besar Wisata Kawah Putih Ciwidey. Membelok ke kiri, kita akan bertemu petugas di pos pembayaran. Mobil bayar 10.000 (kalo gak salah), per orangnya lupa bayar berapa. Kirain di deket pos pembayaran udah deket pula dengan kawahnya. Ternyata masih harus naik ke atas. Kalo gak bawa mobil, disediakan kok mobil semacam mobil carry yang hanya ada atap, gak pake pintu, jadi segar dan dingin 

Perjalanan ke atas ternyata terasa jauh juga, dengan aspal yang berlubang lubang, jadi goncang lah kita selama perjalanan ke atas. Jalanan juga sempit, pas banget buat 2 mobil kalo ketemu mobil yang turun ke bawah. Mungkin sekitar 5 km juga naik ke atas sampai bertemu semacam areal parkir dan kios kios kecil pedagang makanan dan strawberry. Begitu membuka pintu mobil, dingin langsung menyergap. Wah harus pakai jaket pokoknya, kalo perlu pake kaos kaki dan kaos tangan kalo kesana. Dari parkir mobil, jalan kaki sedikit agak turun untuk mencapai kawahnya sekitar 100 m.

Sedikit terengah engah setelsh menuruni tangga turun ke bawah, langsung deh terhampar sebentuk kawah yang cukup luas dengan sedikit asap asap tipis yang mengambang di atasnya. Bau belerang langsung tercium juga, kayak bau kentut  Ada gua penghasil belerang yang masih aktif dan kita tidak boleh berlama lama berdiri di depan gua, bisa mabok kali ya  Eh...orang foto prewedding juga ada. Gak cuma sepasang, tapi ada tiga pasangan yang lagi foto prewed nih. Jadi tontonan orang orang  Airnya agak kehijauan, ada juga yang agak kebiruan. Dan kita bisa mendekat bahkan bisa menyentuh airnya karena pinggiran kawahnya yang landai. Bebatuannya agak kekuningan terkontaminasi belerang. Banyak pohon pohon dengan bentuk yang unik dan indah pula jadi objek foto.

Sekitar setengah jam bermain main di seputaran kawah, gerimis tiba tiba datang. Memang cuaca sudah mendung sejak kami datang. Berlarianlah orang orang segera naik ke atas. Di tengah cuaca dingin karena hujan, ada jagung bakar dan ketan bakar yang menemani. Hum...lumayan mengganjal perut yang dingin. Ada juga pilihan makanan lain. Gorengan, ayam bakar, ikan bakar. Spesial jus strawberry juga ada. Tapi sayang karena hawa dingin jadi gak berminat. Jadinya memborong aja beberapa kg strawberry. Murah meriah. Harganya bervariasi tergantung besar buahnya. Kalo di Jakarta sekotak strawberry yang dibungkus plastik mika itu bisa dibandrol 7 ribu, kalo di sini pinter-pinter nawar aja bisa dapet 4 ribu dengan buah yang fresh dan besar-besar.


Sejarah Kawah Putih
Kawah Putih ternyata ditemukan oleh orang Belanda, Dr. Franz Wilhelm Junghuhn, yang kemudian didirikan menjadi pabrik kawah putih dengan sebutan pada zaman Belanda yaitu Zwavel Ontgining Kawah Putih. Pada zaman Jepang usaha pabrik belerang ini dilanjutkan dengan sebutan Kawah Putih Kenzanka Yokota Ciwidey di bawah pengawasan langsung militer Jepang. Setelah itu baru pada tahun 1991 Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten mengembangkan sebagai Ecotourism Wana Wisata Kawah Putih.

Ayo, sapa yang mo prewed ato sekedar jalan jalan menyegarkan mata dan badan? Mungkin Kawah Putih bisa jadi pilihan. Have a nice trip !


Read more!